Nasyid
Entahlah, apa aku yang kuper atau ada sebab lain, ternyata aku gak ngeh terhadap nasyid-nasyid yang ada sekarang. Beda banget dengan dulu, saat aku masih muda. Masih bergelora. Panas membara. Bersemangat baja.
Tapi emang jaman sudah berubah. Yang dulu uang saku cepek cukup buat survival sehari, sekarang mah dapet apah. Lima rupiah pun masih laku. Bisa buat jajan. Krip-krip atau apalah. Setidak-tidaknya bisa buat nyewa game-watch. Lumayan, menghilangkan suntuk. Meski hanya sesaat.
Back to nasyid. Jaman dulu, waktu aku masih muda belia, yang namanya nasyid itu acapella. Tanpa alat musik. Kalau pun ada, paling suara mulut. Dum pam pam dum pam pam. Yang lumayan beken, yang masih sering aku puter, semacam Suara Persaudaran, Izzatul Islam, Nuansa, dan teman-teman seperjuangannya.
Sekarang, kebanyakan nasyid tidak ada bedanya dengan band yang ada. Dilengkapi dengan pelbagai alat musik. Petik, pukul, jotos, dan sebangsanya. Kan liriknya beda, mas? Liriknya lebih religius. Begitu pembelaanmu. Tapi bukankah band-band sekarang juga banyak yang liriknya religius? Malahan musik-musik underground, liriknya tentang kematian. Dzikrul maut?
Jadi, apa bedanya? Atau mungkin aku termasuk segelintir orang yang tidak bisa membedakan?
Kalau kamu bagaimana?
7 comments
Dunia sudah beruban kawan. eh, maksud ane, dunia sudah berubah kawan! Kalo mo dengerin nasyid yang masih suejukk mampir lah ke gubug sodara kita http://jaballawu.blogspot.com. InsyaAllah, nasyidnya masih bagus.
ok, bro. matur jazaaka4JJ1u khayran.
dunia sudah berubah. lawan!
begitukah?
Dunia sudah berubah. Tidak ada pilihan lain, kawan: Lawan!
Media apapun, yang menjadi perhatian adalah isinya….
apalagi lagu dibawah ini
http://search.4shared.com/q/1/thufail%20al%20ghifari
hmm..
.
adakah sama sahaja dengan ungkapan “yang penting ‘kan hatinya” yang biasa dijadikan alasan buat ‘menghindar’ dari perintah berhijab bagi muslimah?
tentu saja itu hal yang berbeda
tidak bisa disamakan,
sungguh tidak bisa disamakan
swear
Leave a Comment