Ikhwan Telenovela

Maksud Hati Meminang Akhwat, Apa Daya Sudah Keduluan!

Seorang teman menyesal dan mengeluh, setelah menerima undangan walimah dari seorang akhwat yang selama ini sering bergaul dan akrab dengannya. Hatinya hancur berkeping-keping bak puing-puing perumahan liar di Jakarta yang digusur oleh buldozer. Dongkol, kecewa, marah, dan seribu rasa tidak enak ngumpul jadi satu di hatinya. Seolah ia ingin mengulang masa, agar ia bisa mengatakan bahwa ia serius dan ingin menikahi akhwat tersebut.

Ia sudah merasa dikasih harapan, ia sudah merasa akan mendapatkan, tetapi ternyata perasaan hanya tinggal perasaan. ‘Sang akhwat harapan’ mengiyakan pinangan orang, ditinggallah si ikhwan dan menangislah ia sejadi-jadinya. Payah! Padahal senyumnya selama ini sangat akrab dan santun menyapa, tutur katanya di telepon mengisyaratkan bahwa akhwat itupun ada rasa yang lain, pun si ikhwan berasa yang sama.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, bubur sudah dimakan, ditelan, dan dicerna oleh alat pencernaan. Semua sudah terjadi, akhwat yang ia harapkan telah menjadi isteri ikhwan lain! Takdir Allah sudah diputuskan. Harapan tinggal harapan. HIngga gelaplah siang yang terik menyengat, mendunglah wajah yang ceria semburat, kusutlah tubuh, lemah dan tidak bergairah. Hidup bak kumpulan kekecewaan. Bernafas justru menyesakkan paru-paru, apalagi bila suatu ketika harus teringat akhwat itu.

Kisah ini bukan tanpa lakon. Banyak sudah lakon yang mementaskan cerita serupa meski tak persis sama. Komunikasi dua insan saling jatuh cinta yang tidak berani mengungkapkan rasa hingga berakhir dengan kekecewaan yang mendalam dan menuai derita. Ikhwan bukan seorang yang senantiasa tahan godaan. Ia adalah manusia biasa, ia memiliki rasa dan harapan. Khusus untuk masalah cinta, sungguh seorang ikhwan ‘amat sangat’-lah peka!

Kenapa terjalin sesuatu yang indah tapi haram dirasa? Kenapa harus dirasakan sebelum ijab kabul itu tiba? Kenapa harus ada kecewa? Kenapa harus ikhwan yang menjadi pelaku cerita telenovela. Deretan kisah percintaan yang konyol dan kekanak-kanakan. Berujung pada ketidakterimaan akan takdir, berputus asa dari rahmat-Nya, dan menjerumuskan diri pada kekecewaan yang dalam, sedalam Candradimuka!

Mereka yang terlibat hubungan akrab, kita yang terbelit jalinan kawan senasib sependeritaan, Anda yang terjebak pada kunkungan slogan “atas nama ukhuwah”, berhati-hatilah menggantungkan harapan. Jangan salah menaruh harapan sebelum Anda menyadarinya dan mengukurnya. Karena sudah terlalu panjang daftar panjang ikhwan telenovela, jangan Anda menjadi pelaku selanjutnya. (Shad)

** diketik ulang dari tulisan mas Burhan di rubrik Cakruk, buletin Qolbunsalim edisi 45 **

UPDATE: ternyata mas Burhan nulis lagi, dengan judul yang sama di blognya. Check it out!