Bosan
Sebuah kata yang lebih berkonotasi negatif. Tidak semua orang suka, jika diberi label “pembosan”. Meski begitu kata adalah kata. Ia netral. Tergantung bagaimana cara pandang kita terhadap kata tersebut.
Bajingan, misalnya. Sebenarnya ia adalah sebutan bagi sopir gerobak sapi. Begitu kata temenku yang namanya mirip seniman.
Contoh yang lain, kampret. Sebutan bagi anak kelelawar (atau kelelawar kecil?).
Begitulah. Dua kata yang sebenarnya posisinya netral bisa bermakna negatif. Entah kenapa. Saya juga tidak paham. Mungkin di antara Anda terdapat pakar bahasa, bolehlah berbagi rahasia kata.
Begitu juga kata bosan, menurut saya. Bosan itu perlu. Bahkan wajib. Kalau tidak pernah merasa bosan, tentunya kita hanya melakukan hal yang sama. Itu itu saja. Tidak terlecut untuk mencari hal lain. Hal baru yang mungkin tidak terpikir sebelumnya. Akhirnya, otak bisa menjadi tumpul. Tidak pernah terasah. Tidak kreatif, bahasa kerennya. Gak mbois!
Jadi, bersiaplah menikmati kebosanan!
2 comments
Bosan = bos + akhiran “an” = Kayak bos?
Kayaknya istilah kerennya “peyorasi”, penurunan makna menjadi konotasi negatif. CMIIW.
Bagaimana mau “bosan”, kalo tidak punya pilihan? Bagaimana punya pilihan, kalo takut mencoba? Bagaimana mau mencoba, kalo tidak bosan?
Leave a Comment