Follow Up
Tidak begitu asing terdengar. Apalagi di telinga para aktivis. Ya. Follow up. Kata yang seringkali menyerta dalam setiap kegiatan. Selalu mudah untuk diucapkan, dilafalkan. Tapi, untuk realisasinya, ternyata tidak semudah dalam pengucapan. Membutuhkan usaha, yang–terkadang–berdarah-darah. Membangun memang lebih mudah daripada merawat.
Beberapa pekan terakhir, setiap keluar dari toko buku, sering–tidak selalu–ada buku yang terbawa keluar. Dengan merelakan beberapa lembar kertas di kantong, tentunya. Sampai-sampai, antrian buku yang mesti dibaca–karena sudah dibeli–menjadi menumpuk. Jadi susah mem-follow up-i kegiatan membaca buku.
Kesimpulannya, membeli lebih mudah daripada memanfaatkan-apa-yang-dibeli. Ada saran?
Comments
One Response to “Follow Up”
Leave a Reply
tu emg masalh klasik yg udah mendarah daging. kalo menurut aq emng gmn orengnya sih. kalo di organisasi biasanya trgantung figur diatasnya yg dapt dicontoh or dipegang komitmennya. biar yg bwh kut tertarik ngejaga.